Cahaya matahari yang menembus di sela-sela jendela, embun padi yang jatuh di dedaunan. Menandakan pagi pun telah datang. Dengan langkah tergopoh-gopoh, Icha pun membuka jendela agar cahaya dapat masuk ke kamarnya dengan leluasa. Kini dia duduk di balkon. Dia berusaha membayangkan masa lalunya.
Waktu kecil Icha mempunyai cinta monyet. Cimonnya bernama Reno. Dulu ia sering bermain Cinderella. Dimana Icha sebagai putri dan Reno sebagai pangerannya. Mereka selalu bermain bersama, tak disangka Icha menaruh hati pada Reno. Saat bermain Reno sering memanggilnya malaikat kecil. Itu yang membuat Icha semakin menyukai Reno. Menurut Icha, Reno adalah cowok tampan yang baik. Selain itu Reno juga pandai berlari, ia sering memenangkan berbagai lomba lari. Tapi suatu hari Reno tiba-tiba menghilang, tanpa memberitahu siapapun. Icha tak tahu mengapa Reno pergi begitu saja tanpa memberi pesan apapun.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. “Cha, Icha. Lo udah bangun belum. Kita jadi pergi gak nih ? Gue udah nunggu dari tadi nih.” kata Vira. Sahabat Icha yang rumahnya tak jauh dari rumah Icha. Dia memang sudah akrab dengan keluarga Icha. Bahkan Icha udah nganggap dia sebagi saudara sendiri. “Ya bentar Vir, ni gue ge siap-siap. Lo tunggu aja di ruang tamu. Nanti gue turun.” kata Icha sambil bergegas. Setelah semuanya siap, mereka pun pergi dengan naik mobil sedan merah milik Vira. Vira memang anak orang kaya, ibunya seorang dokter gigi sedangkan ayahnya seorang arsitek. Vira adalah anak tunggal. Walaupun dia sering kesepian di rumah, namun Icha selalu ada untuknya. Vira juga tahu tentang kisah cimonnnya Icha.
Suatu hari, seperti biasa icha berangkat sekolah dengan Vira. Dalam perjalanan mereka membicarakan tentang Reno. “ Oo, iya Cha. Gimana kabarnya Reno, cimon lo itu tu ?” kata Vira sambil menyetir mobil. “Gak tahu tuh. Gue udah nyari informasi kemana-mana tapi nggak ada yang tahu dimana Reno sekarang.” jawab Icha. “Kemarin pas sepupu gue Daniel datang ke rumah. Dia nanyak nama panjang Reno tu siapa. Soalnya dia punya temen yang namanya Reno Eka Putra. Dia bilang mungkin itu Reno, cimon lo itu. Benar gak ?” tanya Vira. “Iya-iya, itu bener Reno, cimon gue dulu.” jawab Icha. Ia senyum-senyum sendiri dan berkata dalam hati. “Akhirnya gue isa ketemu ma Reno lagi. Setelah sepuluh tahun nggak ketemu. Uuuh, senangnya.”
Sesampainya di sekolah mereka mengikuti pelajaran seperti biasa. Sampai akhirnya bel pulang pun tiba.
Setelah makan malam, Icha berpikir untuk pindah sekolah. Ia ingin pindah ke sekolahan Reno sekarang, yaitu di SMA Nusa Bangsa. Saat orang tuanya sedang berbincang-bincang di ruang keluarga, Icha memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya. Pertama orang tuanya menolak jika Icha harus pindah ke sekolahan itu. Karena SMA Nusa Bangsa terkenal dengan anak-anaknya yang badung dan susah diatur. Namun Icha terus membujuk dan merayu orang tuanya. Dan akhirnya mereka setuju dengan syarat Icha harus rajin belajar.
Inilah hari pertama Icha masuk di sekolah barunya itu. Ia masih canggung dengan keadaan disekitarnya. Saat berjalan menuju gerbang sekolah, ia bertabrakan dengan seorang cowok. Tak disangka ternyata cowok itu Daniel, sepupu Vira. “Eh sory-sory, gue lagi buru-buru nih.” kata Daniel tanpa melihat cewek yang ditabraknya.
Saat memasuki koridor sekolah, Icha bersenggolan dengan cewek. Dengan mimik marah, dia bilang “Eh kalau jalan pake mata dong! Emm, entar-entar gue kyaknya nggak pernah ngeliat loe di sini deh. Loe tu anak baru ya? Pantesan belum tahu siapa gue. Gue ini Sheril cewek tercantik sekaligus terkeren di sekolah ini. Icha hanya diam dan memerhatikan cewek di depannya itu.
Sambil mendengarkan omelan cewek itu, mata Icha melihat sekitarnya dan tertuju pada satu cowok diantara dua cowok yang turun dari mobil hitam itu. Sepertinya Icha kenal dengan cowok yang pakai tas punggung itu. Icha sempat berfikir sebentar dan ia berkata, “Ya gue kenal siapa dia, dia Reno teman kecil gue.” Sambil berlari Icha menghampiri Reno yang berjalan menuju koridor dengan dua temannya. Tapi apa yang terjadi, Reno tidak mengenali Icha. Dia bilang, “Siapa sih loe, gue nggak kenal loe. Minggir sana gue mo liwat.” Icha terkejut dengan apa yang terjadi. Sambil jalan, Reno mendorong Icha sampai terjatuh, namun ia di tolong oleh Dimas, kakak tiri Reno. Kemudian mereka berkenalan. Sifat Dimas berkebalikan dengan Reno. Dimas itu baik dan ramah.
Walaupun Reno tidak mengenali Icha, tapi Icha yakin bahwa Reno sebenarnya masih kenal dengan dia. Icha tidak menyerah, di hari berikutnya Icha mencoba mendekati Reno lagi dan berkata, “Ren, ni gue Icha. Masak loe nggak inget sih. Gue temen kecil loe, dulu kita sering main bareng kok. Loe juga sering manggil gue malaikat kecil. Loe ingat kan?” Reno hanya diam dan tidak memperdulikan semua perkataan Icha. Kemudian teman Reno yang bernama Ronald bilang, “Eh, kalo Reno bilang nggak kenal, ya nggak kenal. Jangan sok kenal gitu deh.” Icha tidak menjawab apapun. Dia berfikir apa yang harus dilakukan supaya Reno ingat dengan dirinya. Kemudian Icha dikagetkan dengan kedatangan Daniel. Daniel bilang, “Reno tu anaknya emang gitu. Dia suka ngejailin semua anak di sini kecuali Dimas. Denger-denger sih dia jadi kayak gitu karena masalah keluarga. Bokapnya nikah dengan ibunya Dimas. Dia sangat benci dengan ibu tirinya itu. Nggak tahu deh napa.” Sekarang Icha tahu mengapa Reno sekarang berubah.
Suatu hari sekolah mengadakan camping. Seluruh siswa diwajibkan ikut, karena kegiatan ini digunakan untuk tambahan nilai di semester genap. Para siswa naik dengan bus sekolah. Sesampainya di tempat perkemahan, semua siswa mendirikan tendanya masing-masing. Ketika malam tiba, kegiatan itu di mulai dengan acara jelajah malam. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Icha satu kelompuk dengan Daniel, Reno, dimas, dan Sheril. Betapa senangnya Icha bisa satu kelompok dengan Reno. Dalam jelajah itu Icha terpisah dari rombongan. Pada saat itulah Reno peduli. Dia mencari Icha ditengah malam, dan akhirnya Icha ditemukan. Dalam perjalanan menuju tempat kemah, Icha bilang “Ren, thanks udah nylametin gue. Walaupun sikap loe udah berubah, tapi sampai kapanpun gue masih nganggap loe sebagai Reno yang dulu, teman kecil gue yang baik.” Reno hanya diam, namun dalam benaknya Reno berkata, “Maafin gue cha, dan thanks buat kebaikan loe tuk tetap jadi temen gue.” Kegiatan kemah ini membuat Reno dan Icha semakin dekat.
Sepulangnya dari camping, Reno terbayang-bayang wajah Icha yang imud dan menggemaskan itu. Hatinya pun berkata, “Emm, kenapa wajah icha kebayang terus. Apakah mungkin gue suka ma dia ?”Reno tidak menyadari bahwa dari tadi Dimas memperhatikannya. Dimas tahu kalau Reno suka denga Icha.
Pagi-pagi sekali Icha berangkat sekolah. Ia harus datang lebih awal karena ada tugas piket. Selama pelajaran, Reno nggak bisa fokus karena dia masih memikirkan tentang perasaannya. Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Kepala sekolah datang dan mengumumkan bahwa sekolah akan mengadakan acara Prom Night. Dimana setiap murid harus datang dengan pasangan. Ide cemerlang pun datang. Pada acara itu ia berencana akan menembak Icha, ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannnya selama ini. Ia harus berani mengungkapkan isi hatinya.
Acara Prom Night pun tiba, suasana sangat meriah. Para siswa datang dengan pasangannya masing-masing. Icha datang dengan Daniel, sedangkan Reno datang dengan Sheril. Ketika Icha sedang sendiri, Reno mendekatinya. Mereka pun berbincang-bincang, dan pada saat itulah Reno mengungkapkan isi hatinya. Dengan memegang kedua tangan Icha, Reno berkata “Cha, gue mo bilang jujur ma loe. Dari dulu gue nggak pernah ngelupain loe. Gue mo bilang kalo gue….gue..emm gue sayang banget ma loe.” Icha diam sebentar dan berkata, “Gue tahu itu Ren. Gue yakin kalo loe nggak bakalan ngelupain gue. Dari kecil sampai sekarang gue masih tetep nunggu loe dan mencintai loe sepenuh hati.” Reno menjawab, “Thanks udah nunggu gue Cha.” Akhirnya mereka berdua pun jadian dan saling mencintai satu sama lain. Malam yang indah itu seakan hanya milik mereka berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar